Minggu, 20 Februari 2011

SCHIZOPHRENIA

TENTANG SCHIZOPHRENIA
Mereka adalah tiga dari sekian banyak penderita schizophrenia yang berkeliaran di Bukittinggi.
Schizophrenia merupakan gangguan psikotik, hampir satu persen penduduk dunia menderita psikotik dalam hidup mereka. Schizophrenia sering terjadi pada populasi urban dan kelompok social ekonomi rendah.
Terdapat indikasi yang nyata bahwa schizophrenia adalah sebuah gangguan yang terjadi pada fungsi otak. Ditulis dalam buku The Broken Brain: The Biological Revolution in Psychiatry bahwa bukti-bukti terkini tentang serangan schizophrenia merupakan suatu hal yang melibatkan banyak factor. Faktor ini meliputi [erubahan struktur fisik otak, perubahan struktur sel kimia otak, dan factor genetic.
Schizophrenia terbentuk secara bertahap, di mana keluarga maupun penderita tidak menyadari ada sesuatu yang tidak beres dalam otaknya dalam jangka waktu lama. Kerusakan perlahan ini yang akhirnya menjadi schizophrenia yang tersembunyi dan berbahaya. Gejala yang timbul perlahan ini mungkin saja menjadi schizophrenia akut; gangguan yang singkat, kuat, meliputi halusinasi, delusi (penyesatan pikiran), dan kegagalan berpikir.
Kadang, schizophrenia muncul secara tiba-tiba. Perubahan perilaku dramatis terjadi dalam waktu beberapa hari atau minggu. Beberapa penderita mengalami gangguan seumur hidup, tapi tak sedikit yang bisa hidup normal kembali.
Kebanyakan didapati bahwa mereka dikucilkan, menderita depresi hebat, dan tidak mampu berfungsi layaknya orang normal dalam lingkungannya.
Pada beberapa kasus, serangan dapat meningkat menjadi schizophrenia kronis. Penderita menjadi buas, kehilangan karakter sebagai manusia dalam kehidupan social, tidak memiliki motivasi, depresi, dan tidak memiliki kepekaan tentang perasaannya sendiri.
Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak mampu menginterpretasikan dan merespon pesan/rangsangan yang datang. Penderita mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Penderita juga mengalami delusi, yaitu kepercayaan yang kuat dalam menginterpretasikan sesuatu yang kadang-kadang berlawanan dengan kenyataan. Misalnya, pada penderita, lampu trafik di jalan raya yang berwarna merah kuning hijau dianggap sebagai isyarat dari luar angkasa. Beberapa penderita berubah menjadi paranoid. Mereka selalu merasa sedang diamati, diintai, atau hendak diserang.
Depresi yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong dan berharap, selalu menjadi bagian dari hidup penderita. Mereka tidak merasa memiliki perilaku yang menyimpang, tidak bisa membina hubungan dengan orang lain, dan tidak mengenal cinta. Perubahan otak secara biologis juga memberi andil dalam depresi. Depreso yang berkelanjutan akan membuat penderita menarik diri dari lingkungannya. Mereka selalu merasa aman bila sendirian. 


PENYEBAB SCHIZOPHRENIA
Schizophrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan dopamine (salah satu sel kimia dalam otak). Schizophrenia adalah gangguan jiwa psikotik yang paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respon emosional dan menarik diri dari hubungan antar pribadi normal. Sering diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah; aneh) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang panca indera).
Penyakit ini bisa mengenai siapa saja. Tahukah Anda bahwa 75 persen penderita mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun? Usia remaja dan dewasa muda memang beresiko tinggi karena tahap ini penuh stressor (penyebab stress). Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggai sebagai tahap penyesuaian diri dan proses pencarian jati diri. Dalam beberapa kasus, schizophrenia menyerang usia muda antara 15-20 tahun. Tetapi serangan kebanyakan terjadi pada usia 40 tahun ke atas.
Schizophrenia itu genetic. Benarkah demikian? Penelitian genetika molecular modern, terutama penelitian keterkaitan kromosom, tidak menemukan sesuatu yang pasti. Saat ini consensus ahli menyatakan bahwa schizophrenia multi factorial secara genetic. Menurut pendapat saya, genetiknya penyakti ini disebabkan oleh beberapa hal yang terkait dengan lingkungannya. Pengasuhan yang salah menjadi salah satu pemicunya. Jika anak tumbuh menjadi individu yang manja, maka ia lebih berpotensi mengidap penyakit ini. Selain itu, keluarga besar (memiliki banyak saudara) juga menjadi salah satu penyebabnya. Problem saudara rentan terjadi sehingga memicu stress dan depresi pada individu.
Secara garis besar dapat disimpulkan, schizophrenia disebabkan oleh genetic, tidak berfungsinya neurotransmitter, dan trauma.
GEJALA PENDERITA SCHIZOPHRENIA
Indikator premorbid (pra-sakit) pre_schizophrenia antara lain adalah ketidakmampuan seseorang dalam mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh.
Pasien juga menderita penyimpangan komunikasi : sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang atau berputar-putar (sirkumstansial).
Gejala lainnya adalah gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan atau memindahkan atensi.
Selain ketiga hal di atas, gangguan perilaku juga menunjukkan gejala: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara social, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan yang jelas, mengganggu.
Tak hanya remaja dan orang dewasa yang diserang oleh penyakit ini. Pada bayi biasanya terdapat problem makan, gangguan tidur kronis, tonus otot lemah, apatis, dan ketakutan terhadap objek atau benda yang bergerak cepat. Pada balita, terdapat ketakutan yang berlebihan terhadap hal-hal baru seperti potong rambut, takut gelap, terhadap label pakaian, takut terhadap benda-benda bergerak.
Pada anak usia 5-6 tahun, ia mengalami halusinasi suara seperti mendengar bunyi letusan, bantingan pintu atau bisikan, mungkin juga halusinasi visual seperti melihat sesuatu yang bergerak meliuk-liuk, ular, bola-bola bergelindingan, lintasan cahaya dengan latar belakang warna gelap. Anak terlihat bicara atau tersenyum sendiri, menutup telinga, sering mengamuk tanpa sebab.
Meski bayi dan anak-anak dapat menderita schizophrenia atau penyakit psikotik lainnya, keberadaan schizophrenia dalam grup ini sangat sulit dibedakan dengan neurosis (gangguan jiwa) seperti autisme, sindrom Asperger atau hiperaktif. Untuk itu, diagnosanya harus dilakukan dengan sangat berhati-hati oleh psikiater atu pun psikolog yang bersangkutan.
Untuk mendiagnosis seseorangitu penderita schizophrenia, harus memiliki beberapa criteria:
  1. berlangsung paling sedikit enam bulan
  2. penuruan fungsi yang cukup bermakna, yaitu di bidang pekerjaan, hubungan interpersonal, dan fungsi mendukung diri sendiri.
  3. pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk khas selama sebagian dari periode tersebut.
  4. tidak ditemui gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif, gangguan mood mayor, autisme, atau gangguan organic.

1 komentar:

Feny Nurhayati mengatakan...

boleh tau referensi bukunya nggak? lagi butuh untuk penelitian nih..

Poskan Komentar